Ranjau Media Sosial itu Bernama 'Thinking Fallacy'


Menilik kembali fenomena yang berkembang di masyarakat akhir-akhir ini, terutama beragam bentuk lalulalang informasi di media sosial, acapkali menimbulkan keresahan bagi beberapa orang, terutama bagi penulis sendiri.

Salah satu di antara bentuk lalu lalang informasi tersebut adalah berita bohong (Hoax). Akhir-akhir ini berbagai berita hoax kian menjamur, bak roti basi yang siap ditelan mentah-mentah oleh laparnya perut orang-orang bodoh, tanpa sedikitpun mengunyah. Meskipun berbagai sumber mengatakan bahwa orang-orang yang dengan mudah memercayai berita hoax dikorelasikan dengan tingkat pendidikan, namun bagi penulis sendiri berita hoax tersebut disebabkan oleh faktor lain yaitu tingkat sentimen masing-masing individu.

Berpijak dari hal tersebut, jika dikaitkan dengan perkembangan saat ini, khususnya tahun 2019, yang notabene merupakan tahun politik, ada banyak sekali ranjau-ranjau dalam derasnya arus informasi di media sosial. Usut punya usut, untuk dapat mengetahui faktor yang mempengaruhi fenomena tersebut dapat kita kembalikan pada aspek "Silogisme Hipotesis" yang merupakan sebuah logika dasar dalam berpikir. Merunut kembali asas kritis, tentu banyak di antara kita yang masih terjebak dalam proses dasar berpikir, sehingga menyebabkan terjadinya sebuah kecacatan / kesesatan proses berpikir (Thinking Fallacy).

Bagaimana sih contoh dari Kecacatan Proses Berpikir (Thinking Fallacy) tersebut?

Baiklah, pada pembahasan kali ini kami ingin memaparkan ulasan mengenai Kecacatan Proses Berpikir (Thinking Fallacy) secara mendetail namun sederhana.
Berikut kami paparkan ulasan mengenai 'Thinking Fallacy' yang marak terjadi.

  • Contoh Kasus Pertama :

Misalnya anda mengkritisi salah satu kebijakan pemerintah  di media sosial yang menurut anda kebijakan tersebut telah merugikan masyarakat, maka dengan seketika anda akan dicap sebagai "Kampret". Hal tersebut mengindikasikan bahwa telah terjadi sebuah labelling yang dilakukan orang-orang tertentu. Mereka yang terjebak dalam arus fanatisme politik akan menyerang anda dengan umpatan-umpatan semisal "Ah dasar kampret, taunya nyinyir doang". 
Melihat dan memperhatikan hal tersebut, bahwa di dalam proses dasar berpikir telah terjadi sebuah Kecacatan Proses Berpikir (Thinking Fallacy). 

Jenis kecacatan proses berpikir (Thinking Fallacy) lainnya yang kerap terjadi di media sosial adalah bentuk "Retrospective Determinism Fallacy", yaitu sebuah proses berpikir dengan menempatkan masalah-masalah sosial yang terjadi sebagai sesuatu yang historis, sehingga akan selalu terjadi dan tidak dapat dihindari oleh manusia.

Salah satu contoh  Retrospective Determinism Fallacy dapat anda perhatikan melalui Argumentum Ad-Hominem berikut :

"Korupsi itu sudah ada sejak jaman nenek moyang kita, itu sudah menjadi sifat bawaan manusia karena 'power tends to corrupt' seperti yang disebut sejarawan Inggris Lord Acton. Jadi korupsi itu sudah hal lumrah dan menjadi bagian dari sistem, asal jangan ketahuan".

Statement di atas jika kita amati secara mendasar seperti menyuguhkan sebuah kebenaran, namun jika diamati secara mendalam, statement tersebut mengandung banyak kecacatan berpikir (Thinking Fallacy). Mereka menerapkan pemikiran bahwa masalah sosial tidak akan pernah terpecahkan dan hanya dapat dimobilisasi, dilokalisasi atau bahkan untuk sekedar dimaklumi. Hal tersebut akan membuat kita terus-terusan berkutat pada pemecahan superficial yang tidak pernah menuntun kita pada akar suatu permasalahan.

Dengan kebiasaan berpikir seperti ini, kita tidak akan bisa berfikir lebih advanced untuk mencari akar permasalahan yang ada, dan tidak akan pernah mampu mengantarkan kita untuk menerapkan daya berpikir tinggi (lower-order thinking skill).

Sebagai pengingat, kita harus selalu menganalisa dan memperbaiki proses berpikir yang kita terapkan, sehingga dapat terhindar dari bahaya laten  'Thinking Fallacy'.

Demikianlah ulasan singkat mengenai "Ranjau Media Sosial itu Bernama Thinking Fallacy" semoga dapat menjadi acuan sekaligus refleksi bagi kita mengenai proses berpikir yang baik, dan tentunya benar.

Salam Hangat,
Bersekolah.com
PORTAL INFORMASI PENDIDIKAN

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Portal Informasi Pendidikan

0 Response to "Ranjau Media Sosial itu Bernama 'Thinking Fallacy'"

Posting Komentar